Dimalang terdapat sebuah desa yang bisa dibilang masih asri, baik secara kebudayaan, maupun peradaban manusianya Wonokerto adalah namanya. Desa yang terdapat dikecamatan poncokusumo, tepatnya pada arah timur laut atau perbatasan antara kecamatan wajak dengan poncokusumo ini masih alami bahkan baru tahun 2017 kemarin desa ini dapat teraliri listrik secara merata, secara geografis desa ini berada di kaki gunung semeru.
Desa Ini telah berusia selama puluhan tahun, bahkan sebelum indonesia merdeka diprediksi desa ini telah ada.
Penduduk dengan mata pencaharian petani, berladang serta berburu di hutan menandakan desa ini masih asri. Konon ada mitos yang telah beredar di masyarakat tentang desa ini, namanya juga mitos bisa dipercaya dan bisa tidak. Apalagi kali ini sang penulis menuliskan legenda ini bersumber dari cerita bapaknya yang kejelasan serta faktualnya masih dipertanyakan. Bisa jadi ini merupakan asli mitos atau bahkan hanya sarana orangtua untuk menghibur anaknya.
Tetapi secara sekilas mitos yang akan penulis sampaikan ini cukup menarik serta mengandung filosofi kehidupan yang mendalam sehingga penulis tertarik untuk menulisnya.
Ceritanya singkat saja, dulu mata pencaharian rata-rata penduduk desa wonokerto adalah berdagang, yakni berdagang hasil olahan kayu atau meubel sederhan, diantaranya kursi, dipan, meja dan perkakas rumah tangga lainnya. Lalu salah seorang penduduk yang terkenal sukses dalam berdagang ini telah sampai desa, dengan tangan kosong artinya tidak membawa kembali dagangannya dan bisa disimpulkan bahwa telah habis dan membawa banyak uang.
Pria yang itu sedang berjalan kaki, karena dahulu belum ada transportasi yang ada hanya sepeda ontel, itupun hanya milik orang kaya lagipula di desa wonokerto ini tidak ada akses untuk transportasi sehingga semua di lakukan dengan berjalan kaki. Pria ini berjalan sembari membawa sarung yang disampirkan dipundaknya seperti halnya orang dahulu. Ditengah jalan ia ditanya oleh tetangganya "hee.. Kang, samean wes moleh, waduh akeh rupane duwik e" dalam bahasa jawa seperti itu yang artinya, "hai mas, kamu sudah pulanh, wah rupanya banyak uangnya" (sambil melihat sarung yang telah menggelembung besar yang bersampir dipundak sang pria itu) lalu pria itu menjawab dengan mudah "oalah iyo kang wes moleh, oalah tatal iki kang" artinya "iya kang, tapi ini tatal kang" ,tatal adalah serpihan kayu sisa hasil ukir atau tatah.
Lalu sampai sekarang orang desa wonokerto mempercayai bahwa ketika terjadi percakapan itu ada wali tuhan yang sedang lewat sehingga apa yang dikatakan pria itu telah terjadi takdir atau bahkan kutukan, karena sampai sekarangpun mata pencaharian penduduk disana sama seperti dulu bahkan orang merasakan peradabannya pun tertinggal.
Cerita yang menarik. Pelajarannya adalah Tuhan bersama prasngka hambanya, omongan adalah do'a. Jadi mulai dari sekarang tata prasangka baik. Tata perkataan baik.
Insyaallah akan melahirkan sesuatu yang baik pula.
Ingat ya ini mitos. Hehe
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah berkontribusi, selalu ikuti kami melalui sebuah tulisan